Hero section image background

Melalui Storytelling, KPID Jabar Edukasi Bahaya Internet pada Anak Usia Dini

Kamis, 18 Juni 2026

News

20

Postingan ini dilihat

1

Postingan ini dibagikan

Poster post Melalui Storytelling, KPID Jabar Edukasi Bahaya Internet pada Anak Usia Dini

Sumedang - Arus konten digital yang semakin mudah diakses anak-anak dinilai menjadi tantangan serius dalam perlindungan generasi muda. Akses gawai tanpa pengawasan disebut berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif, perilaku, hingga pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Persoalan tersebut menjadi sorotan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat bersama DPRD Provinsi Jawa Barat. Edukasi diberikan kepala puluhan anak dan orang tua lewat kegiatan storytelling bertajuk Siaran Ramah Anak dan Perempuan yang berlangsung di SDN Jatihurip, Kabupaten Sumedang, Kamis, 18 Juni 2026.

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, mengatakan ancaman yang dihadapi anak saat ini tidak lagi terbatas pada tayangan televisi maupun radio. Menurutnya, media berbasis internet justru menjadi sumber risiko terbesar karena aksesnya yang sangat terbuka.

"Tidak hanya pada program televisi dan radio, tapi bahaya hari ini yang mengancam itu di media berbasis internet karena anak-anak hari ini sama ibu-ibunya diberikan HP sedangkan orang tua tidak bisa kontrol untuk mengakses media tersebut," kata Adiyana di sela kegiatan.

Ia menjelaskan hasil riset KPID Jawa Barat menunjukkan penggunaan internet tanpa penyaringan sejak usia dini dapat mengganggu perkembangan pola pikir anak. Dampak tersebut kemudian memengaruhi aspek emosional maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

“Dampak psikologis ini termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, di mana anak-anak menjadi lebih rentan mengalami tantrum, kerap berkata kasar, hingga memicu perilaku yang berani melawan orang tua sendiri,” jelas Adiyana.

Untuk menjawab persoalan itu, KPID Jabar memilih pendekatan storytelling dalam menyampaikan edukasi. Metode tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan ceramah formal karena lebih mudah dipahami anak maupun orang tua.

"Kami ingin sesuatu yang baru, enggak mungkin masuk ke anak-anak dengan ceramah yang serius. Ini satu-satunya di Indonesia yang dilakukan KPID di Jawa Barat dengan storytelling sehingga apa yang kami sampaikan bisa diterima dengan gampang oleh anak-anak dan orang tua," tegas Adiyana.

Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Ineu Purwadewi Sundari, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai persoalan ketergantungan gawai tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah tanpa keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Saya bersyukur karena kalau hanya kita pemerintah tanpa ada kepedulian dari KPID, dari orang tua, dari sekolah, kita secara bersama-sama masalah ini akan terus terjadi. Tadi yang disampaikan oleh Ketua KPID jadi keprihatinan kita bersama," ungkap Ineu.

Ia menjelaskan Jawa Barat sebenarnya telah memiliki regulasi perlindungan anak. Namun, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat dinilai memerlukan penguatan langkah pencegahan terhadap ancaman siber dan paparan konten negatif.

Menurut Ineu, DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama ini telah menjalankan pendidikan demokrasi di tingkat SMA. Program literasi digital untuk siswa SD dan SMP dinilai penting sebagai upaya membangun perlindungan sejak usia lebih dini.

"Kalau di DPRD Provinsi dengan Pemda Provinsi kami sudah memiliki program pendidikan demokrasi, tapi kan di tingkat SMA. Kalau ini kan dari SD, SMP yang bisa juga mencegah secara dini, menjaga anak-anak dan terus menciptakan anak-anak yang berkarakter," tutur legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Ineu mengingatkan bahwa keberhasilan membangun generasi emas Indonesia 2045 sangat bergantung pada kepedulian seluruh pihak terhadap ancaman digital. Menurutnya, pembentukan karakter anak harus dilakukan secara gotong royong sejak usia sekolah dasar.

"Kunci keberhasilan harus ada kepedulian semua, baik pemerintah, masyarakat, keluarga dan sebagainya. Kalau abai, kami khawatir apa yang diharapkan pemerintah untuk mencapai Indonesia Emas 2045, tidak mudah dicapai. Harus dari dini melakukan itu dan dari semua sektor dilakukan secara gotong-royong bersama-sama," pungkas Ineu.

Sementara itu, Kepala SDN Jatihurip, Yati Sumiati, mengaku kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi guru, siswa, dan orang tua. Ia menilai edukasi mengenai bahaya konten negatif masih sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah.

“Kegiatan seperti ini harusnya sering, karena sangat bermanfaat apalagi mengundang orang tua. Memang kebanyakan orang tua kalau anak rewel, tantrum kasih HP, udah diam. Bahayanya mereka tidak menyadarinya. Dengan acara seperti ini mungkin orang tua sedikitnya lebih paham bagaimana mengatasi anak jangan sampai diberikan HP,” jelasnya.

Yati menyebut pendekatan edukasi melalui cerita yang menarik baru pertama kali diterapkan di sekolahnya. Karena itu, ia berharap program serupa dapat diperluas ke sekolah-sekolah lain agar semakin banyak guru, siswa, dan orang tua memperoleh pemahaman mengenai risiko konten digital.

“Belum, baru kali ini. Iya, makanya alhamdulillah. Mungkin di Sumedang Utara hanya diwakili sekolah kami. Saya mohon, saya minta mungkin bisa keliling ke sekolah-sekolah yang lain juga karena saya yakin mereka juga membutuhkan,” tutupnya.

Penulis: Admin

Tags

  • kpidjabar
  • roadtoharsiarda
  • harsiarda2026
  • storytelling